Jumat, 11 September 2015

Ada Apa dengan Bid'ah..?

Bid’ah.

Pernah dengar kata bid’ah..? Bagi orang-orang yang hidup di jaman serba cepat, dimana informasi dari suatu wilayah ke wilayah lain bisa diperoleh dalam waktu beberapa detik, tentu kata bid’ah tidak asing di telinga kita.

Bid’ah, kata itu terasa ekstrim didengar. Mendengarnya, seperti akan terjadi perpecahan. Kata yang kuanggap tak perlu dikeluarkan. Tapi, apa bid’ah itu..?

Dalam sebuah situs wikipedia, bid’ah adalah perbuatan yang dikerjakan tidak menurut contoh yang sudah ditetapkan, termasuk menambah atau mengurangi ketetapan.

Di sini, saya tidak akan menjelaskan jenis-jenis bid’ah, apa saja yang termasuk bid’ah dan lain sebagainya. Saya hanya ingin menuangkan kata tentang apa yang terjadi dan bagaimana menyikapinya.

Seseorang yang menyatakan bid’ah pada orang lain pada dasarnya dia ingin memberitahu bahwa “sebenarnya tidak begini loh... tapi harus begini, begitu...” hal itu seperti diingatkan dan diluruskan, bukan?

Tapi yang terjadi,,, ketika seseorang mengatakan bid’ah, orang yang diberitahu seakan-akan dianggap kafir, merasa dijatuhkan. Dan orang yang memberitahu pun dianggap sok benar sendiri. Sehingga terjadilah ketidaksukaan, rasa anti dengan golongan tertentu, dan bahkan perpecahan.

Menurut saya, ketika saya dikatai bid’ah, maka seharusnya saya berpikir dan pelajari kembali, sudah benarkah ibadah yang dilakukan ini, yang kata orang tersebut bid’ah...? dengan mempelajari kembali, jika memang yang dilakukan adalah sesuai dengan syari’at, ya lanjutkan. Tapi jika tidak, maka bersyukurlah karena Allah mengingatkan dan meluruskan saya melalui orang yang mengatakan saya bid’ah. Bisa jadi, saya melakukan ibadah bid’ah tersebut karena turun temurun dari orang-orang terdahulu tanpa mengecek kembali keberadaannya dalam Al-Qur’an dan Hadits.

Tapi dengan anggapan yang terlalu ekstrim, bagi seseorang yang ingin mengatakan bid’ah, kata bid’ah mungkin harus diganti dengan kata atau kalimat yang lebih indah sehingga target tidak merasa dianggap kafir, dan tidak sakit hati.

Semoga kita dimudahkan dalam memahami ilmu... :-)

Kamis, 20 Agustus 2015

"Mamah.. Aku Membutuhkanmu.."

Sudah beberapa hari ini, anak perempuan cantik yang aku kenal, masuk ke Rumah Sakit karena demam berdarah. Dalam sakitnya, ada pelajaran berharga untuk para ibu pekerja. Semoga Allah memberikan pahala kepada ibu dan anak tersebut...

*Untuk selanjutnya si ibu kita panggil teteh dan si anak kita panggil cantik

Entah bagaimana asal-muasalnya, dengan tubuh lemahnya, tiba-tiba saja si cantik yang memang ga terlalu banyak bicara tapi cukup kritis itu berkata, "Mamah tuh terlalu sibuk jualan terus!!! Sampe-sampe cantik masuk rumah sakit!". Hmmm... benar, mamahnya pedagang yang pamdai berdagang dan sebenarnya waktu berjualan bisa disesuaikan.
"Pokoknya, kalo mau cantik sembuh, mamah harus berhenti jualan ini-itu!!! Kalo ga... mending cantik mati aja...!!!" Lanjutnya. Ayahnya pun hanya senyum-senyum mendengar kritikan tersebut.
"Dan.. selama cantik di Rumah Sakit, mamah ga boleh pergi dari sini..!!!" Tambahnya lagi.
Yuppp... itulah kata-kata yang kurang-lebih sama dengan kata-kata yang diucapkannya.

Para ibu, dan juga saya yang kini sedang menjadi wanita pekerja, tentu kita paham bahwa kerja atau tidak adalah pilihan. Dan bekerja adalah pilihan yang sangat beresiko.
Kini saya pun teringat dengan serial drama Jepang, 37.5°C No Namida. Di sana, terdapat cerita seorang ibu (single parent) yang harus bekerja untuk memenuhi hidupnya, padahal sejujurnya dia ingin mendidik dan mengurus anaknya secara full, tanpa harus memikirkan pekerjaan. Begitu juga dengan anaknya yang ingin lebih sering di dekat ibunya. Tapi, mau tidak mau si anak pun harus memahami kondisi ibunya, tak terkecuali ketika sang ibu stress dan emosi.
Kondisi si ibu dalam drama tersebut memang berbeda dengan kondisi teteh, karena teteh masih memiliki suami. Tapi diantara keduanya memiliki kesamaan, yakni sama-sama perempuan, bekerja dan memiliki anak.
Bisa jadi... sebelum kejadian ini, si cantik memang sudah ingin mengatakan "STOP JUALAN..!!!". Namun, dia berusaha untuk menahannya dan mencoba memahami serta memberikan toleransi.

Para ibu pekerja dan aku di masa depan yang entah masih bekerja atau pensiun dini, yang sebenarnya kesempatan untuk bersama keluarga lebih besar daripada ketika menenggelamkan diri ke dalam rutinitas kerja, masih adakah perasaan peka dengan apa yang anak kita pikirkan atau rasakan...? Haruskah menunggu kata-kata itu keluar dari mulut sang anak...?

Saat ini, saat aku single, bukanlah sebuah beban untuk bekerja. Tapi ketika aku melihat teman-temanku yang menjadi ibu dan bekerja, aku pun bisa merasakan bagaimana mereka merasa berat meninggalkan anak. Dan lama-kelamaan, mereka terlihat sudah biasa meninggalkan anaknya. Tapi pertanyaan besarnya, apakah anak pun ikhlas ditinggalkan...? Atau mungkin ada setitik rasa cemburu karena perhatian teralihkan ke pekerjaan selama 8jam/hari di hari kerja..?

Argh.. entahlah.. aku sendiri pun belum pernah merasakan menjadi anak dari seorang ibu pekerja.
Tapi, walaupun aku masih single, biarlah kukatakan ini sebagai pengingatku di masa depan, bahwa, di luar sana, masih banyak ibu yang ingin mendidik anaknya, dan memberi perhatian penuh tanpa harus dibebani dan dipengaruhi pekerjaan. Namun karena kondisi yang terjadi dia terpaksa bekerja.
Mungkin saatnya lah menilai diri, apakah harus benar-benar bekerja, jika suami masih bisa mencukupi semua kebutuhan...?

Tapi, teteh...  Jika memang kau memilih tidak berjualan dengan alasan untuk mendidik dan memberi perhatian full pada anak, itulah pilihan yang terbaik...
InsyaAllah, nikmat untukmu dan keluarga akan dicukupkan oleh-Nya...

Aku tak pernah tahu diriku di masa depan. Tapi aku berharap, aku bukan orang yang lari dari tanggung jawabku sebagai seorang istri dan seorang ibu...
Semoga Allah memudahkan perjalanan hidup kita semua...

Sabtu, 30 Mei 2015

Tetap Berkarirkah,,,?

Sebuah obrolan kopi yang menarik ketika dua orang wanita single membahas tentang menjadi ibu atau istri 'full day' atau 'part time'. Dikatakan menarik, karena dalam obrolan ini, keduanya bebas mengeluarkan pendapat, baik dari ke-egoisan diri, atau pendapat yang seharusnya benar adanya.

Ada banyak alasan seorang wanita memilih berkarir. Dan tentunya ada banyak pula sanggahan yang bisa dibalas seorang calon atau suami ketika si perempuan mengungkapkan hal itu.

Alasan-alasan umum itu seperti...
1. Mengisi waktu luang
Ini salah satu alasan umum yang sering terjadi... dan bisa di-smash langsung oleh si calon atau suami dengan balik bertanya, "memang di rumah nggak ada kegiatan sampai mengharuskan diri bekerja..?"
Okey... mungkin jawaban ini bakal berlanjut ke alasan yang kedua.

2. Bosan
Kadang ada sebagian wanita cepet bosan sehingga merasa mengharuskan diri untuk memiliki aktivitas lain selain urusan rumah tangga. Hmmm... kalo ini saya belom kebayang sih si calon bakal ngomong apa.
Eh, tapi mungkin bilang gini, "itu hanya perkiraan saja. Nanti kalau udah di jalanin pasti ada aja aktivitas yang bisa dikerjakan, jadi nggak bakalan bosan..."
Gitu kali ya...

3. Wanita pun boleh berkarya
Wahhh.. ini tipe wanita pintar nih... berkarya dengan bekerja.
Apa kira-kira tanggapan si calon atau suami...?
"Saya tidak melarang berkarya. Tapi, berkarya tidak harus dengan jalan bekerja. Mencetak generasi islam yang kuat, penghapal qur'an, sederhana, tidak cinta dunia, dan mencetak seorang pemimpin dan pendidik, itulah karya yang luar biasa bagi seorang istri. Mudahkah itu,..?"
Hmmm... berdasarkan pengetahuanku, seorang full mother aja bakal menilai kalau itu gak mudah, apalagi dengan kondisi zaman yang seperti ini. Lah kalau full mother aja menilai seperti itu, bagaimana dengan part time mother yang ketemu anaknya cuma di luar jam kerja..?
Tapi bukan berarti part time mother ga bisa mencetak generasi, loh... ada juga kok yang sukses mendidik anaknya...

4. Mencari penghasilan tambahan
Untuk alasan yang satu ini, bisa jadi ada faktor lain yang berkaitan dengan keuangan. Faktor tersebut bisa jadi sebagao berikut :
1) Dengan uang sendiri lebih puas dan bebas membeli apa saja
Alasan inilah yang pernah dilontarkan oleh salah satu temanku. Dengan adanya penghasilan sendiri, dia bisa membiayai apa saja yang dia inginkan tanpa harus mengambil dana dari suami. Yap... pengahasilan ini untuk memenuhi kebutuhan tersiernya, atau membantu kebutuhan pokok ketika dana dari suami kurang.
2) Membantu membiayai kebutuhan orangtua atau adik
Seorang istri tetaplah manusia yang memiliki perasaan. Belasan bahkan puluhan tahun dia hidup dengan orangtuanya. Hampir semua kebutuhannya dipenuhi oleh orangtuanya. Dan begitu banyak suka dan duka yang dialaminya bersama keluarga tersayang.
Saat seorang ayah telah benar-benar menitipkan anak perempuannya pada lelaki yang dipercayai, bukan berarti kontak batin antara orangtua dan anak putus. Dan adakalanya orangtua membutuhkan biaya tambahan, entah itu untuk hidup, membiayai sekolah adiknya, atau untuk biaya kesehatan. Disinilah wanita yang menjadi anaknya terkadang tidak tega melihat keluarganya kesusahan. Hingga akhirnya, meski seorang anak perempuan yang telah berumah tangga tidak wajib memberi nafkah pada orangtua, tetap saja dia merasa harus bekerja dan memperoleh penghasilan agar keluarganya tidak kekurangan.
Apakah orangtuanya memintanya untuk memberikan dana tambahan...? Biasanya tidak. Tidak jarang orangtua diam-diam saja jika membutuhkan dana. Bahkan terkadang ada yang memilih meminjam kepada orang lain daripada harus merepotkan anaknya.
Itulah contoh dua faktor yang menyebabkan seorang wanita memilih untuk bekerja dan mencari penghasilan tambahan.
Apa yang diucapkan seorang calon/suami setelah mendengar alasan ini, bisa jadi bermacam-macam. Bisa jadi mendukung, atau sebaliknya.

Di luar sana, terlepas dari paham atau tidaknya kewajiban seorang istri dan pentingnya menjadi full mother, mungkin masih banyak lagi alasan wanita memilih berkarir dan menjadi parttime mother.

Hmmm... bagaimana dengan kita..?